Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Resahnya hati

KAMI MEMANG TAKUT

Gambar: rid-1-syah.blogspot.co.id Beberapa bulan lalu (14/01) Indonesia—khususnya Jakarta—kembali diguncang teror dengan serangkaian kejadian berupa ledakan dan penembakan yang dilakukan oleh sekelompok orang. Entah apa motif di balik serangkaian aksi tersebut, yang pasti kejadian ini cukup membetot banyak perhatian masyarakat dalam negeri, juga dunia internasional. Beberapa orang dilaporkan menjadi korban, baik korban meninggal dunia maupun luka-luka. Kata “teror” jika menilik dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti usaha menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan dan sepakat, bahwa apapun bentuk aksi dan motif yang melatar-belakangi sebuah perbuatan, jika itu mampu membuat masyarakat atau orang lain ketakutan, merasa ngeri atau trauma, bisa dikategorikan sebagai teror.  Setuju? Belum tentu. Karena di bumi ini, bumi yang sama-sama kita tempati dan tinggali, arti dan makna tero...

Bersamamu

Tak ada tangis Tak ada airmata Hanya senyum Dan takbir kebahagian Bersamamu adalah... Setekun-tekunnya belajar Sebaik-baiknya kenangan Seindah-indahnya pelangi Sebiru-birunya laut Selucu-lucunya tawa Sesedih-sedihnya duka Sehitam-hitamnya dosa Seputih-putihnya harap Sesejuk-sejuknya tatap Sehangat-hangatnya hawa Sesenang-senangnya hujan Setulus-tulusnya do’a Dan bersamamu adalah ... sedahsyat-dahsyatnya rasa ikhlas 'Bersamamu' – Bumi Allah, di penghujung Maret 2013

Ah, Dasar Saya!

Ini cerita tentang Fufu, laptop hitam manis milik saya. Ralat, milik istri saya (karena waktu saya nikah, saya dapet cewek sekaligus dengan laptopnya, juga TV, printer, magicom, serta kipas angin). Dasar, saya memang lelaki tak bermodal, hanya latihan mengucapkan akad nikah modal saya. Balik ke Fufu, tuts keyboard-nya udah sering copot. Terutama huruf 'i'. Loadingnya juga udah lumayan lama betul. Seperti orang yang harus merenung dulu tiap kali diklik, setelah itu baru bergerak. Mungkin Fufu ingin mengajarkan kepada saya untuk banyak merenung. Maklumlah, Fufu ini sudah berumur. Begitu juga saya, akhir bulan ini insya Allah usia saya bertambah lagi. Balik lagi ke Fufu. Dia selalu saya geber buat ngejar setoran (padahal Fufu ini bukan bajaj). Sementara, saya belum punya doku untuk beli laptop baru. Doku saya baru cukup buat beli beras, sayuran dengan sedikit lauk, dan bubur buat Mata. Ah, dasar saya! Lelaki tak bermodal. Modal saya hanya ketampanan semata (terserah saya, jangan a...

Maafkan Saya

   Betapa banyak pelajaran yang berserak di hadapan hidung kita. Andai saja sedikit mau bersusah payah memungutnya. Niscaya menjadi bekal dalam mengarungi samudera kehidupan.     Sungguh terdapat nasihat dari peristiwa calon hakim agung yang beberapa malam lalu, yang karena lisannya tak terjaga, ia menyakiti banyak hati di muka bumi ini. Atau dari kicauan seorang pengacara yang digadang-gadang akan mencalonkan diri sebagai pemimpin negeri ini, namun sayang lisannya tak lebih baik dari seorang pendengki.     Empat belas abad yang lalu, Abu Dzar Al-Ghifari pernah sangat merasa hina dan berdosa di hadapan seorang bernama Bilal ibn Rabah. Ketika dalam emosi, ia kalah oleh nafsunya dan sempat memaki sahabatnya itu. "Hai, anak budak Hitam!" teriaknya. Bermula dari kekesalannya terhadap Bilal yang dianggapnya tak mampu mengerjakan amanah dengan utuh, bahkan sahabatnya itu seakan membuat alasan untuk membenarkan dirinya sendiri...

Aku Pulang, Aku Kalah

Malam ini aku pulang dengan memanggul sekeranjang kekalahan. Di kotak ini. Lagi. Lagi dan akan lagi. Kembali dalam kotak ini. Seperti dejavu. Sendiri. Bahkan ratu pun enggan berteman. Aku terkapar. Jatuh. Diam. Menatap. Terpejam. Kalah. Lalu mati. Sementara? Tidak. Selamanya. Aku rindu senyum itu.